Idul Adha di Rumah

Bogor Times, Opini-Terkait imbauan Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengenai Shalat Idul Fitri di rumah. Perlu kami ulas landasan syar’i mengenai hal tersebut.

Idealnya sholat Idul Fitri dikerjakan di mushalla atau di masjid pada situasi normal (halatul ikhtiyar). Shalat Idul Fitri juga boleh dilakukan di tanah terbuka mengingat banyak sekali jamaah yang hadir pada pelaksanaan shalat Idul Fitri.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah keluar menuju sebuah tempat shalat yang cukup luas. Keduanya meriwayatkan hadits dari Abu Sa‘id RA. Selain dari Abu Sa‘id RA, keduanya juga meriwayatkan hadits yang semakna dari beberapa sahabat.

Baca Juga:  Dekati Lebaran, Warga Bogor Tinggalkan Gas Kembali Ke Alam

والسنة أن يصلي صلاة العيد في المصلي إذا كان مسجد البلد ضيقا لما روى أن النبي صلي لله عليه وسلم ” كان يخرج الي المصلي ” ولان الناس يكثرون في صلاة العيد

Artinya, “Sunnah itu pelaksanaan shalat id di mushallah jika masjid desa sempit sebagaimana riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW keluar menuju ke mushalla dan masyarakat banyak (yang hadir) pada shalat id,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz V, halaman 7).

Namun, pada situasi kepepet (halatud dharurah) seperti saat pencegahan Covid-19, pelaksanaan shalat Idul Fitri dapat dialihkan dari masjid, mushalla, atau lapangan terbuka ke rumah yang hanya melibatkan sedikit jamaah (anggota keluarga).

Baca Juga:  Dekati Lebaran, Walikota Ajak Warga Prihatin

Pada situasi kritis/kepepet inilah kita menemui uzur yang melahirkan keringanan (rukhshah) karena kita memang tidak memiliki pilihan selain keharusan untuk menjaga jarak dari kerumunan/pembatasan sosial (social distancing).

Uzur dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri memiliki kesamaan dengan uzur pada shalat Jumat. Sejumlah uzur shalat Idul Fitri berikut ini sebagian besar memiliki kesamaan dengan uzur shalat Jumat.

ومن الاعذار المطر والوحل والخوف والبرد ونحوها

Artinya, “Uzur-uzur itu adalah hujan, tanah belok/berlumpur, situasi mencekam (khauf), cuaca dingin, dan uzur lainnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, 2010 M: V/8)

Baca Juga:  Ulama Betawi, Abuyya KH Abdurrahman Nawi Tutup Usia

Uzur pembatasan sosial (social distancing) dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia dapat ditarik ke dalam cakupan “uzur lainnya” pada keterangan Imam An-Nawawi.

Dari sini kemudian kita dapat memahami putusan keagamaan sejumlah lembaga, institusi, dan ormas keagamaan yang menganjurkan masyarakat untuk melaksanakan (shalat tarawih dan) shalat Idul Fitri di rumah dengan jumlah jamaah yang terbatas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan