Dahulukan Akurasi Dari Kecepatan

BOGOR TIMES- Media online kini semakin menjamur. Algojo yang memenggal media cetak ini tak bisa terlepas dari akurasi dan kecepatan. 

Tak jarang, kecepatan berita media online justru menafikan akurasi infornasi dan kedalaman. Manakah yang kebih didahulukan? 

kecepatan dan akurasi dalam menulis berita. Kecepatan berita penting, tetapi seringkali mengorbankan akurasi dan kedalaman berita. Manakah yang dipilih oleh media online di Indonesia?

Direktur Bogor Times.com, Sanusi Wirasuta Ibn Salim menyatakan dua hal tersebut menjadi etika penting dalam standar penulisan berita yang baik, terutama di media online. Karena itu etika ini tidak boleh ditinggalkan oleh wartawan yang sedang melaksanakan peliputan berita.

Baca Juga:  Burhanudin Mewakili Pemkab Bogor Terima Penghargaan Kementrian ATR/BPN

“Akurasi itu sangat penting. Kecepatan pun penting,” kata Sanusi dalam rapat internal redaksi di Curug Cakrawardhana, Cibadak Sukamakmur, Minggu (24/11/2019). 

Menurutnya, kedua hal tersebut tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lain. Kecepatan dan akurasi dalam penulisan berita harus menjadi satu kesatuan yg berkait erat dengan tanggungjawab  profesi jurnalis.

 “Tanggungjawab jurnalis untuk menyajikan fakta. Bukan sekedar informasi brantah, ” ucapnya. 

Lebih lanjut ia menerangkan, etika jurnalistik tersebut harus dilakukan secara berimbang, tidak boleh berita dikirim terlambat, tetapi juga tidak mengorbankan akurasi penulisan berita.

Baca Juga:  Jurnalis Gelar Peduli Tenaga Medis

Selain itu, fenomena cepat-cepatan dalam menulis berita dan mengorbankan akurasinya justru harus dikurangi. Pasalnya, hal itu akan meruntuhkan kredibilitas media online itu sendiri.

“Media online di luar negeri hanya memproduksi sekitar 40 berita per hari. Di Indonesia justru bisa memproduksi 600-800 berita per hari. Kuantitas sebenarnya tak lebih penting kualitas,” kata ucapnya. 

Baginya, kecepatan bukan satu-satunya ukuran media online tersebut akan dibaca. Di medianya, tetap harus mengedepankan akurasi dan kedalaman penulisan berita agar pembaca juga tidak dijejali berita hoaks. 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan