Demokrasi Baru Di Jambi. Jalur Independen Kalahkan Lawan Politiknya

Oleh : Dinal Gusti, Sekjend Inisiator Perjuangan Ide Rakyat [INSPIRA]

Ada cerita menarik dari Pemilihan Kepala Daerah [Pilkada] Serentak tahun 2020 lalu. Cerita itu datang dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur [Baca : Tanjabtim], Provinsi Jambi. Di mana Pasangan Calon Petahana, Romi Hariyanto dan Robby Nahliyansah kembali memenangkan hati rakyat dalam kontestasi politik lima tahunan tersebut. Persentase kemenangannya pun tak main-main. 75% rakyat Kabupaten Tanjabtim melabuhkan kembali pilihannya kepada Paslon Petahana. Dan yang tak kalah menariknya, pada perhelatan Pilkada tahun 2020 ini, mereka memilih maju dari jalur perseorangan atau independen. Dan kemenangan mereka melalui jalur independen ini adalah yang pertama dalam sejarah Demokrasi di Provinsi Jambi.

Putusan Paslon Petahana Romi dan Robbi untuk maju dalam Pilkada Kabupaten Tanjabtim tahun 2020 melalui jalur independen memang bisa dikatakan berani. Namun di balik keberanian tersebut tentu terdapat alasan dan pertimbangan yang matang dan kuat. Penulis berpendapat, Paslon Petahana ini memiliki jalinan eksistensial yang kuat dengan rakyat Kabupaten Tanjabtim yang dipimpinnya. Artinya kepemimpinan mereka di periode pertama, benar-benar memberikan manfaat besar bagi mayoritas masyarakat Kabupaten Tanjabtim. Dalam perhelatan Pilkada 2015 lalu mereka berhasil mendulang suara sebanyak 60%, dan pada perhelatan Pilkada 2020, tercatat 75 persen suara masyarakat berhasil mereka dulang tanpa perlu mengeluarkan biaya politik yang besar dan juga Partai Politik.

Baca Juga:  Luhut Binsar Pendjaitan: Saya Suka Diskusi


Terpilihnya Pasangan Calon Bupati Tanjabtim, Romi dan Robby di Pilkada 2020 melalui jalur independen telah menjadi penanda baru bagi Wajah Demokrasi di Provinsi Jambi. Mereka adalah paslon pertama dari jalur independen yang berhasil memenangkan kontestasi politik dalam sejarah Demokrasi Jambi. Kemenangan telak mereka adalah bukti bahwa dukungan masyarakat bukan dari hasil politik transaksional, melainkan melalui kerja politik yang berpeluh. Terpilihnya mereka untuk kedua kalinya adalah bukti bahwasanya masyarakat Tanjabtim memilih karena kapasitas dan integritas yang mereka miliki. Dalam kamus Politik hal itu lazim disebut dengan istilah Meritokrasi. Dalam sejarahnya, meritokrasi adalah alternatif bagi demokrasi itu sendiri. Sebagaimana yang kita tahu, situasi demokrasi kita hari ini seringkali memberikan peluang bagi orang-orang yang tidak memiliki kapasitas dan integritas untuk memimpin. Cukup dengan modal ekonomi yang kuat, mereka dapat meraih kekuasaan tanpa perlu melakukan kerja politik. Walhasil Rakyat pun menjadi korban. Secara de facto, Demokrasi tanpa diimbangi dengan meritokrasi–meminjam istilah Yudi Latif–hanya akan membuat kepemimpinan terenggut oleh orang-orang yang mau, meski pada dasarnya mereka tak mampu.

Baca Juga:  Waspada! Jajanan Es Anak Tak Sehat


Bagi penulis, kemenangan pasangan Romi dan Robby dalam Pilkada Tanjabtim 2020 melalui jalur independen sedikit banyaknya telah mengubah wajah Demokrasi tanah air. Lahirnya pemimpin dari Rahim Meritokrasi menjadi spirit baru di tengah langit politik bangsa yang agak mendung. Kepemimpinan yang transformatif dan mengakar sangat dibutuhkan bagi negeri ini untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dan tentu saja hikmah yang bisa kita ambil dari fenomena politik di Pilkada Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini adalah ketokohan atau citra pemimpin harus dibangun dari kerja politik penuh cinta dan peluh. Tanpa itu semua, mustahil kekuasaan itu akan dapat diraih [kembali].

Baca Juga:  Inilah Manfaat Jilbab Menurut Islam

Sebagai penutup, penulis yakin Romi Hariyanto sebagai pucuk pimpinan birokrasi di Kabupaten Tanjabtim, pantas menjadi salah satu tokoh baru pemimpin masa depan bangsa. Semoga dalam periode keduanya, dia mampu membawa Kabupaten Tanjabtim menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan