Dipaksa Akui Positif Corona, Warga Bogor Protes

Bogor Times, Kabupaten-“Entah apa yang merasuki mu” lirik lagu milik grup band Ilir7 ini layak dinisbatkan pada Rumah Sakit (RS) dr Abdul Radjak Salemba Tengah No.24, RT.1/RW.4, Paseban, Senen, Central Jakarta City, Jakarta Pusat. Pasalnya, keluarga pasien gagal oprasi sesar karena pendarahan dipinta untuk menyetujui keterangan positif Corona pada korban.

Berawal ketika Bhakti (34) warga Desa Jampang, Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor hendak mengambil jenazah adiknya, Lusiana (26) yang dikabarkan tewas karena pendarahan usai melalui oprasi sesar pada Kamis (14/5/2020). 

Baca Juga:  Kartar Cogreg Advokasi Pasien BPJS Nunggak

Saat menemui petugas medis RS, Bhakti dipinta untuk menandatangi surat keterangan atau Sertfikat Medis Penyebab Kematian (SMPK). Dalam SMPK itu terdapat keterangan korban mengidap penyakit menular sehingga harus menggunakan SOP Covid-19 untuk pemakamannya.

SMPK yang sempat direvisi usai protes warga Bogor.(Foto: Ben)

“Saya tanya kenapa adik saya harus dimakamkan cara korban corona, apakah adik saya positif (corona, red)? Dia (pihak RS) tidak menjawab,” kata Bhakti.

Menurutnya, adik tercintanya tak memiliki riwayat penyakit menular. Selain itu, dokter lebih dulu telah menerangkan bahwa korban meningal karena pendarahan.

“Karena itu saya menolak tegas petugas  keukeuh. Dan saya kasih tau kalau saya dari ormas dan punya sodara wartawan,” terangnya.

Setelah mendapatkan protes, akhirnya petugas RS menganti keterangan SMPK dengan kondisi yang sebenarnya. “Dia (petugas RS,red) nampak gugup dan mengganti keterangan,”ucapnya.

Al hasil, bayi korban yang berhasil diselamatkan bisa di bawa pulang. Dan Lusiana dapat dikeluarkan dari RS dengan biaya ringan. Bila menggunakan SOP Covid-19 keluarga harus membayar administrasi hingga lebih dari Rp 7 juta.

Setelah itu, korban dimakamkam di Pemakaman Pasar Jum’at, Desa Kemang, Kabupaten Bogor. “Kami sekeluarga sudah ikhlas menerima,”katanya.

Hingga berita ini dirilis, pihak RS memberikan keterangan. Saat hendak ditemui, pengelola selalu tak ditempat. “Maaf pak sedang tak ada yang bisa dikomfirmasi,”ucap Scurity RS yang enggan menyebut namanya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan