ISIS Saudara Atau Ancaman?

Bogor Times, Nasional-Pada dasarnya tidak ada satupun agama di dunia ini yang menghalalkan pembunuhan, sebab tujuan agama adalah untuk perdamaian, menyebarkan kasih sayang, dan mengatur tatanan sosial agar lebih baik. Begitu pula dengan doktrin agama Islam, sejak awal penurunannya sudah ditegaskan bahwa Islam mengemban visi kerahmatan (QS: al-Anbiya’: 107).

Sehingga hampir tidak ditemukan pembenaran kejahatan dalam ajaran Islam. Dengan demikian, bila ada sekelompok orang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam, ketahuilah bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat bertentangan dengan filosofi Islam itu sendiri.

Dalam al-Qur’an dikatakan, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS: Al-Maidah: 32).Ayat ini adalah salah satu contoh kecaman Islam atas setiap pembunuhan yang dilakukan dengan semena-mena.

Baca Juga:  Tak Serius Cegah Faham Radikal. Kinerja Kemenag dipertayakan.

Ini juga yang menjadi dasar sikap para Ulama mayoritas di dunia menentang gerakan ISIS. Karena bukanlah perdamaian, dalil Agama justru dijadikan mereka untuk melakukan pengerusakan.

Seperti dikutip dari NU.Online terhadap keterangan eks ISIS yang tersadar sebelum menumpahkan darah.

Penyesalan sangat dirasakan oleh Nur Dhania, gadis Indonesia yang sempat bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Penyesalan terjadi setelah dirinya melihat secara nyata kehidupan di Suriah.

Menurut Nur Dhania, informasi yang pernah didapat di media sosial dan internet tentang ISIS yang akan menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan yang menggunakan dalih agama, yaitu melalui payung kekhilafahan, tidaklah terbukti. Bahkan, sambungnya, banyak tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti terjadinya perkelahian antarperempuan karena persoalan sepele.

Baca Juga:  Tak Serius Cegah Faham Radikal. Kinerja Kemenag dipertayakan.

“Beda banget. Berbeda jauh dengan apa yang mereka keluarkan di media mereka dan juga berbeda dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Banyak sekali yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam,” kata Nur Dhania seusai menjadi pembicara pada cara Picnikustik yang diselenggarakan Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta di Medco Ampera, Jakarta Selatan, Rabu (29/8) malam.

Nur Dhania tidak menginginkan ada lagi orang yang tertipu seperti dirinya oleh propaganda ISIS. Oleh karena itu, ia berpesan kepada masyarakat agar rajin memeriksa terlebih dahulu setiap menerima informasi di media sosial dan harus berpikir kritis.

“Kita harus selalu memeriksa setiap berita yang datang kepada kita. Dulu, (kesalahan saya) cuma menerima secara bulat-bulat (informasi yang diterima) tanpa disaring terlebih dahulu,” ucapnya.

Baca Juga:  Tak Serius Cegah Faham Radikal. Kinerja Kemenag dipertayakan.

Nur Dhania juga berpesan agar masyarakat mempelajari ajaran Islam secara mendalam dan dengan benar, seperti mempelajari maksud ayat dalam Al-Qur’an agar tidak mudah terdoktrin oleh ISIS dan kelompok-kelompok ekstremisme lainnya.

“Kelompok ekstrimisme itu seperti ISIS atau yang lainnya selalu menggunakan dalil atau ayat-ayat Al-Qur’an, misalnya mengambil satu ayat Al-Quran lalu mendoktrin,” ucapnya.

Menurutnya, jika orang tidak memahami Al-Quran dan hadits dengan benar, maka akan mudah tertipu oleh doktrin kelompok ekstremis. Sebaliknya, jika seseorang memiliki pegangan agama yang teguh, maka ketika berada di mana pun akan merasa aman.

“Ketika kita di luar mana pun, kita tahu ‘ah ini mah susah ini’ kayaknya ini salah nih jelasinnya’, karena kita punya pegangannya,” ucapnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan