Kepala Cabang Disdik Jabar:Doktrin Budaya Tangkal Radikalisme

BOGOR TIMES, Kabupaten- Maraknya intoleransi dan tindakan radikalisme atas kelompok atau golongan tertentu, merupakan embrio tumbuhnya tindakan ekstrimisme dan terorisme. 

Indonesia dengan keberagaman suku, budaya hingga keyakinan, tidak membuat negara ini luput dari sasaran bertumbuhnya faham fundamentalisme. Namun, hal itu justru bisa sitangkal dengan kuatnya pemahanan budaya.

 Hal itu disampaikan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Bogor, Dadang Sufyan Saifullah dalam Acara Pekan Budaya Nusantara dalam rangka hari pahlawan dan guru, SMP Plus Pariwisata Cileungsi belum lama ini (22/11/2019). 

Menurutnya, pelajar dan umumnya generasi muda masa kini sebagai kelompok yang mudah dipengaruhi dan menirukan sikap dan perilaku dari kelompok tertentu, yang berkepentingan menyebarkan ajaran atau ideologinya. Aksi intoleransi dan radikalisme yang mengarah pada tindakan ekstrimisme, merupakan reaksi pribadi atas fenomena sosial yang terjadi. 

Baca Juga:  Pelayanan BPN Terus Disempurnakan

“Karena itu, pemahaman kebudayaan harus diperkuat. Khususnya jadi pelajar dan pemuda, “tukasnya.

Lebih lanjut Dadang menjelaskan, upaya mencegah ekstrimisme berbasis kekerasan harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif. Penanganan masalah ekstrimisme maupun radikalisme di Indonesia harus melibatkan semua pihak dan lembaga negara, untuk penanganan maupun pencegahan.

Dalam hal ini, media sosial kata Dadan menjadi salah satu alat untuk penyebaran faham radikalisme dan ekstrimisme, selain media konvensional lainnya. Bahkan lembaga pendidikan dan kelompok-kelompok anak muda menjadi lahan subur persemaian faham radikalisme dan ekstrimisme. 

Baca Juga:  Imam Pimpin PMII Kabupaten Bogor

” Alhamdulillah, di sekolah ini (SMP Plus Pariwisata Mekarsari, red) edukasi budaya cukup kuat. Sehingga para pelajar dipastikan mampu terhindar dari faham Radikal, “ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kepercayaan diri masyarakat atas keunggulan akar sejarah bangsanya harus diperkuat, untuk mengatasi munculnya fundamentalisme yang menjadi akar lahirnya tindakan radikalisme. Kesadaran mengenai keluhuran nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, akan dapat menangkal fundamentalisme berlandaskan agama yang menghendaki keseragaman.

Di tempat yang sama, Owner SMK Taman Wisata Mia Yulianti mengaku kerap kali menerapkan kedisiplinan pada siswanya. Tak hanya itu, suntikan doktrinasi nasionalisme secara rutin dilakukan. 

Baca Juga:  Proyek "Donald Trump" Usik Warga Cigombong

“Babinmas dan Babinsa Saya minta untuk bicara depan siswa. Karena mereka tauladan kedisiplinan serta untuk penanaman nasionalisme, ” tukasnya. 

Upaya itulah yang menjadikan sekolahnya tak pernah terlibat tauran pelajar. Meskipun  banyak kalangan yang mencibir. 

“Banyak yang sebut kita sekolah penjara. Tidak apa-apa yang penting anak-anak (siswa, red) terselamatkan dari pergaulan yang salah, ” ucapnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan