Kuliah Dirumahkan, Bayaran SPP, UAS Tetap Sama

Bogor Times, Kabupaten – Mahasiswa STAI Al-Aulia meminta civitas akademika memberi keringanan membayar Iuran SPP dan Ujian Akhir Smester dimasa pendemi covid 19. Paaalnya, aktifitas pengajaran terbatas.

Sejak diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar di indonesia untuk menghindari terjadinya hal yang tidak diingankan dimasa pendemi covid 19, maka seluruh mahasiswa STAI Al-Aulia terpaksa dirumahkan dan mengikuti kuliah berbasis online.

Berdasarkan surat edaran yang ditandatangani oleh ketua Prodi PAI STAI Al-Aulia No 073.2/STAI-A/1920/V/2020 pada poin 2 Peserta UAS adalah Mahasiswa yang sudah membayar SPP, melunasi biaya administrasi lainnya dan memiliki kartu UAS. Itu menjadi hambatan bagi para mahasiswa sehingga menimbulkan banyak komentar digroup Resmi Mahasiswa dan Dosen STAI Al-Aulia.

Salah satu mahasiswa, Aenul Yaqin memberikan komentar terkait surat edaran tersebut. “Kami memohon kepada pihak civitas agar menurunkan pembayaran perkuliahan kami. Sebab dimasa Covid 19 ini kami tidak efektif dalam pembelajaran perkuliahan kami” terangnya di kediamannya di Cibungbulang, Pada Rabu (19/05/20).

Baca Juga:  Bupati Bogor Buka Borderline Economic Summit 2019

Menurutnya, tanggungjawab berkait erat dengan hak. Jika hak mahasiswa dikurangi maka seharusnya tanggungjawab juga terpengaruhi.

“Apalagi di smester VI (6) Ada dua Dosen yang tidak bisa memberikan matkul nya kepada kami. Pertama Dr.H Rahmat (metodologi penelitian Dan KTI), yang kedua Dr. Jaja Sudarjat ( statistik). Bagi kami Dua Dosen ini sangat penting dalam membantu penyusunan skripsi Kami nanti”. pungkasnya.

Lebih lanjut, ia membeberkan beberapa hak amahasiswa Mengapa mahasiswa geram, ketika terjadi pembatalan diskon UKT. Alasannya cukup sederhana.

Dengan memakai analogi hak dan kewajiban. Di mana mahasiswa wajib membayar UKT untuk dapat mengikuti perkuliahan. Maka dari itu mahasiswa juga berhak untuk mendapatkan fasilitas penunjang pembelajaran, dan pelayanan Akademik.

Baca Juga:  Sampah Berserakan di Pasar Citeureup

Tapi jika hak-hak mahasiswa dirasa tidak terpenuhi, tentu tidak salah jika mahasiswa bergerak menuntut agar haknya dapat terpenuhi. Alih-alih peralihan sistem perkuliahan online ini membuat fasilitas yang didapatkan oleh mahasiswa, nyatanya tidak sesuai dengan UKT/spp yang telah dibayarkan. Dengan rentan waktu perkuliahan menggunakan sistem kuliah online yang belum jelas ini, serta kurang efektifnya kuliah online itu sendiri.


Krisis Ekonomi Orangtua
Selain berdasar atas pemenuhan hak mahasiswa, kiranya faktor perekonomian keluarga juga sangat berdampak dengan pembayaran UKT. Latarbelakang pekerjaan orangtua mahasiswa yang bervariasi, tidak menutup kemungkinan sedikit banyak perekonomi pendapatan keluarga berkurang. Seperti orangtua mahasiswa, yang pekerjaannya sebagai petani, dalam kondisi seperti ini mereka harus rela menelan pil pahit dengan harga hasil panennya anjlok.

Baca Juga:  Cibinong Terbanyak Corona

Alih-alih untuk membayar UKT sang anak, mereka (baca: orangtua) terpaksa gigit jari untuk mengembalikan modal produksi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi bagi orangtua mahasiswa yang terkena PHK. Melihat kondisi yang demikian, selayaknya Kemenag sudah sepatutnya berpihak kepada mahasiswa. Ini soal kemanusiaan.

Adapun kendala kami dalam perkuliahan daring.

  1. Jaringan lemot
  2. Ada beberapa matkul yang tidak berjalan. (smt 6. Metodologi penelitian, karya tukis ilmiah, statistik, micro teaching)
  3. Diskusi jalan dosen tidak nyimak.
  4. Tidak ada kuota internet
  5. Tidak punya hp
  6. Ada sebagian mahasiswa yang tidak punya laptop
  7. Kebijakan mengenai spp di masa pandemi
  8. persentasi kurang kondusif melalui hp
  9. ada satu dosen yg tidak jalan diskusi (sm4)
Bagikan:

Tinggalkan Balasan