Meniti Jalur Gunung Salak (Part 2)

BOGOR TIMES, Kabupaten-Perjalanan Tim Ekspedisi Bogor Times ke Gunung salak (16/11/2019) meguak banyak pengetahuan. Seakan tak akan habis diceritakan, perjalanan tersebut pastinya akan memberi kesan tersendiri bagi Tim maupun para pendaki lainnya.

Gunung yang berada di wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi ini bisa jadi pilihan pendakian bagi pecinta kegiatan alam bebas yang berada di Jakarta dan sekitarnya, karena jarak tempuhnya yang tidak terlalu jauh. Namun begitu, gunung berapi yang dikelola oleh Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini memiliki trek yang sangat ekstrem.

Karakter Topografi Gunung yang tidak terlalu tinggi ini sebetulnya memiliki keunikan tersendiri, selain cerita mistis yang melegenda juga memiliki topografi agak besar dengan 3 puncak di atasnya (ada yang menyebutnya 7 puncak) membuat para pendaki penasaran bagaimana sensasi mendaki dan melihat langsung keindahan puncak tertingginya yang memiliki ketinggian 2.211 mdpl.

Gunung yang sarat akan sejarah kerajaan Sunda ini memang tidak seramai Gunung Gede Pangrango yang biasa didaki oleh ratusan orang saat akhir pekan.

Bahkan pada hari libur sekalipun, pendaki yang ingin mencapai puncak Salak, masih terbilang sedikit. Pasalnya meskipun Gunung Salak memiliki ketinggian tidak terlalu tinggi tetapi tergolong gunung yang sangat sulit didaki karena medannya yang sulit dengan kemiringannya yang terjal serta vegetasi hutan yang terbilang masih sangat rimbun dan alami. Bahkan dibeberapa titik jalur pendakian para pendaki akan langsung bersimpangan dengan lintasan habitat hutan liar seperti macan tutul dan babi hutan. Karenanya harus selalu berhati-hati dan tetap menjaga etika kesopanan saat melakukan pendakian.

Bagi pendaki, ada beberapa alternatif jalur resmi yang bisa dilalui, yakni melewati Cidahu di Sukabumi dan Pasir Reungit di Kabupaten Bogor. Selain itu ada jalur Cimelati yang masih terletak di Sukabumi. Jalur tersebut masih dalam proses pembenahan oleh Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Jalur ini dinilai akan menjadi jalur paling favorit pengganti jalur via Cidahu karena dianggap lebih pendek jarak tempuh pendakiannya dibanding jalur lain. Akan tetapi jangan dianggap remeh jalur pendakian via Cimelati, seperti jalur lainnya jalur ini memiliki medan yang sangat terjal, sulit dan memiliki tingkat kelembaban cukup tinggi.

Baca Juga:  Buruknya Drainase Jalan Raya Pahlawan Dikeluhkan

Semua jalur pendakian memiliki karakter dan sensasi yang berbeda-beda. Bagi kebanyakan pendaki memilih menggunakan jalur Cidahu, karena dinilai jalur tersebut lebih aman dan terbilang cepat dibanding jalur Pasir Reungit Bogor. Dari Cidahu jalan menuju puncak memiliki panjang sekitar 9 kilometer dan setiap beberapa ratus meter terdapat penanda yang cukup rapi.

Sebelum melakukan pendakian, para pendaki diwajibkan mendaftarkan diri dahulu di kantor pengelola taman nasional. Hal itu bertujuan untuk mendata siapa saja yang akan melakukan pendakian dan perlengkapan apa saja yang akan dibawa selama proses pendakian.

Setelah mendaftar kita akan langsung melakukan perjalanan menuju Gerbang Rimba dengan jalan beraspal yang cukup panjang sekitar 1,5 kilometer dan menanjak. Bagi para pendaki perjalanan menuju Gerbang Rimba merupakan pemanasan awal pendakian.

Pendakian sesungguhnya akan dimulai ketika kita telah masuk Gerbang Rimba, dengan jalur yang terbilang cukup terjal dan bebatuan yang disusun rapi sebagai jalan setapak. Pendaki akan melewati trek sepanjang 1 km lebih dengan tingkat kesulitan variatif dari melewati pohon tumbang di jalur pendakian hingga rawa dan lumpur untuk sampai pos peristirahatan yang dinamai pos Bajuri.

Biasanya para pendaki mendirikan tenda sebelum melanjut pendakian, karena pos Bajuri memiliki mata air terakhir sebelum menuju puncak Manik I Salak dan memiliki tanah lapang yang cukup untuk menampung beberapa tenda bagi pendaki.

Dari pos Bajuri, pendaki akan dihadapkan dengan dua persimpangan, persimpangan ini merupakan titik temu dari trek pendakian via Pasir Reungit Bogor dari arah Kawah Ratu. Para pendaki bisa memilih melanjutkan pendakian ke puncak Manik I salak atau ke Kawah Ratu.

Banyak dari pendaki Gunung Salak yang melanjutkan ke puncak Manik I, namun tidak sedikit para pecinta alam bebas sengaja datang hanya melihat Kawah Ratu. Sebuah kawah aktip yang memiliki kaldera kecil sangat indah menyemburkan gas berbau belerang dan ada air panas didalam kawah tersebut.

Baca Juga:  UANG 277 JUTA RUPIAH MILIK UPT PENDIDIKAN JASINGA DAN SUKAJAYA RAIB DIGONDOL MALING
Tim Ekspedisi Bogor Times menerobos jalur pendakian. (Foto:Sanusi Wirasuta)

Pos Bajuri Menuju Puncak Bayangan

Mungkin disini mental dan fisik para pendaki akan diuji, seberapa kuat kita melewati jalur yang terkenal dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Sepanjang jalurnya banyak ditemui trek curam dengan kemiringan hampir 90 derajat yang pastinya bikin nyali banyak orang ciut. Untuk melewatinya harus menggunakan tali pipih atau webing untuk memanjat. Beberapa jalur bahkan harus melewati trek lumpur yang dalamnya bisa mencapai setengah meter, rawa, dan trek licin menanjak sehingga memaksa tangan harus selalu berpegangan pada akar-akar pohon. Terlebih jika kondisi hujan akan semakin menjadi-jadi jalur yang akan dilalui.

Tapi untuk menjaga keselamatan para pendaki, pihak Taman Nasional sudah menandai setiap 100 meter dengan patok kayu, yakni HM 1 di Bajuri, hingga HM 50 di Puncak Salak.

Masuk ke HM 35 hingga Puncak Bayangan, pendaki akan menemui trek yang perlu konsentrasi tinggi. Di sepanjang kiri-kanan jalur adalah jurang dalam yang hanya menyisakan jalan setapak kurang dari satu meter. Selain itu, terdapat pula tanjakan curam, bisa disebut tebing, karena kemiringannya hampir 90 derajat atau tegak lurus, sehingga harus menggunakan webing untuk melaluinya.

Pos Bayangan menuju Puncak Manik I Salak

Jalur ekstrem masih berlanjut selepas Pos Bayangan. Selain curam, pendaki seringkali harus menghadapi kabut yang bisa datang tiba-tiba. Sepanjang jalur kita akan menemukan akar-akar pohon cukup membantu pendakian. Berbeda dengan trek sebelumnya, jika cuaca cerah di jalur menuju puncak ini pendaki bisa melihat pandang ke arah lembah, termasuk ke Kawah Ratu. Jurang dalam yang menganga jadi pemandangan menakjubkan sekaligus mengerikan. Lagi-lagi mental para pendaki akan dihantam di jalur ini.

Dengan melakukan istirahat sejenak dikelilingi hutan yang masih perawan diharapkan cukup menyegarkan mata saat semangat mulai kendor. Setelah melewati Pos Bayangan, biasanya sinar matahari sudah bisa menembus lebatnya pepohonan lebat Gunung Salak.

Biasanya jika kabut tidak turun dengan cuaca cukup baik, dari titik ini para pendaki akan disuguhkan dengan tebing curam yang dihantam pesawat jenis Sukhoi beberapa tahun lalu.

Baca Juga:  Misteri Pendakian Gunung Salak (Part 1)

Namun tidak sedikit para pendaki yang memilih untuk mendirikan tenda kembali di titik ini dengan alasan beratnya medan yang menguras semua energi. Sembari menunggu sunrise di puncak Manik I.

Biasanya perjalanan dari titik ini hanya tinggal satu hingga dua jam perjalanan menuju puncak. Tetapi banyak pula para pendaki yang langsung menuju ke puncak Manik I dan mendirikan tenda diatas puncak tertinggi Gunung Salak.

Setelah melakukan pendakian yang menguras energi, pendaki akan merasakan sensasi berbeda dengan kebanyakan gunung lain. Para pendaki akan langsung disuguhkan dengan plang nama yang bertuliskan Puncak Manik I Salak sebagai tanda pendakian telah mencapai puncak Gunung Salak. Puncak Manik I Salak memiliki ketinggian 2.211 mpdl dengan rimbunnya vegetasi membuat siapa saja akan merasakan ketenangan ketika berada di Puncak Gunung Salak.

Bagi para pendaki jangan berharap bisa berfoto dengan berlatar hamparan awan seperti gunung pada umumnya, karena para pendaki akan lebih dihadapkan dengan lebatnya hutan dan tebing yang sangat alami, lebih-lebih puncak Manik I lebih sering berkabut sehingga jarak pandang menjadi sangat terbatas.

Selain papan nama, terdapat pula petilasan berwujud makam yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar lereng Gunung Salak. Tak jarang pendaki berpapasan dengan peziarah yang sengaja mendaki hanya untuk sekadar berziarah.

Di samping makam terdapat gubuk kecil untuk tempat peristirahatan peziarah. Disekitar bangunan kecil itu pula terdapat sebuah penampungan air hujan yang bisa dimanfaatkan pendaki ataupun peziarah.

Meski tergolong Gunung dengan ketinggiannya yang pendek, mendaki Gunung Salak membutuhkan waktu sekitar 9 jam untuk bisa mencapai Puncak, atau bahkan lebih dari itu, sesuai dengan kekuatan dari masing-masing pendaki. Karenanya Gunung Salak biasanya dijuluki dengan istilah “kecil-kecil cabe rawit”. Karenanya bagi para pendaki harus memiliki fisik dan mental baja untuk mendakinya.

Selamat melakukan pendakian dan selalu jaga etika kesopanan

Tim ekspedisi Gunung Salak setelah melakukan briefing di basecamp

Bagikan:

Tinggalkan Balasan