SUGENG TEGUH SANTOSO: Rumah Pancasila Tolak Prodak Intoleran

Bogor Times, Kabupaten- Merebaknya faham intoleran di Kabupaten Bogor khusunya dan umumnya di Jawabarat serta Indonesia. Bukanlah sebatas gejala pluralitas beragama berbasis sosial keagamaan. Melainkan juga politik.

Kolaborasi antara partai politik dalam mencapai kepentingan tampa basis ideologis. Pada akhirnya menapik adanya peran idiologi agama dan kebangsaan.

“Di jawabarat ini politisi melakukan perkawinan haram. Sehingga melahirkan prodak haram. Tak terkecuali di Kabupaten Bogor,”tegas Sugeng Teguh Santoso dalam acara Istighosah Qubro dan peresmian Rumah Pancasila di Joglo Keadilan Parakan Salak, Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor pada Senin (16/3/2020).

Bukan tampa dasar, Sugeng mencotohkan kondisi rill di Kabupaten Bogor yang mendiskriminasikan faham Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Hingga ke ranah kebijakan.

Baca Juga:  Gedung NU Disatroni Ranmor

“Seperti surat bupati bogor yang melarang Ahmadiyyah untuk beribadah. Ini kebijakan yang keliru,”ucapnya.

Tak hanya itu, Sugeng menilai.Kebijakan tersebut merupakan kesesatan hukum. Lantaran tak berpijak pada landasan hukum yang sah.

“Larangan itu  saya anggap sesat konstitusi. Karena SKB Tiga Meteri saja tidak berisi larangan untuk ibadah. Kok bupati justru berani melarang,”tegasnya.

Ia menerangkan,  SKB Tiga Menteri  mengenai Ahmadiyaah. Tidak  ada larangan untuk jaamaat Ahmadiyyah melakukan kegiatan agamanya. Yang dilarang cara menafsyirkan pelaksanaan agama yang dianggap sudah baku.

“Ini adalah contoh kecil prodak haram dari perkawinan politik yang haram. Ada banyak lagi kasus lainnya,”ucapnya.

Oleh sebab itu, ia memprediksi kehancuran Indonesia bukan hal yang tidak mungkin. Hal itu bisa saja  terjadi ketika politisi intoleran telah mampu menguasai parlemen dan konstitusi negara.
“Jika politisi  kondrun yang intoleran sudah kuasai Indonesia. Maka itu bertanda kehancuran negeri,”ucapnya.

Baca Juga:  SAH ! PC GP Ansor Kabupaten Bogor di Lantik

Di tempat yang sama, Zuhairi Misrawi atau Gus Mis menyoroti munculnya sikap atau faham intoleran di tengah masyarakat sebagai sebuah penyakit atau virus yang berbahaya. Dia menegaskan, faham intoleran sangat mengganggu bahkan bisa merusak kerukunan umat, persatuan dan kesatuan bangsa. “Masyarakat harus bergerak melawan. Pemerintah harus hadir melalui semua perangkat yang dimilikinya, agar kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dirusak oleh para penganut faham intoleran.” Ucapnya.

Sedangkan KH. Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril mengungkapkan, saat ini sudah sangat jelas bermunculan faham intoleran yang merusak NKRI. “Kalau kita mau jujur, saat ini faham intoleran sudah sangat berkembang. Masyarakat harus berani melakukan perlawanan. Kalau di pusat ada BPIP, maka di setiap wilayah harus ada Rumah Pancasila,” ujarnya.

Baca Juga:  IPNU, IPPNU Santuni Yatim

Gus Nuril menandaskan, kehadiran para penganut faham intoleran harus dilawan dengan peran serta masyarakat dan tidak hanya mengandalkan aparatur negara. Dia menegaskan, gerakan perlawanan bisa dilakukan dengan diskusi dan dialog agar para penganut faham intoleran sadar bahwa rakyat Indonesia itu beragam suku bangsa dan agama atau keyakinannya. “Jadi masyarakat jangan diam. Masyarakat harus bergerak agar faham intoleran tidak semakin berkembang.” Pungkasnya

Bagikan:

Tinggalkan Balasan