Penampakan bentuk Huntara dari IR Box untuk korban bencana longsor

Tanggapan DPKPP Tentang 27 Huntara Korban Longsor dari IR Box

Bogor Times, Kabupaten – Dibangunnya 27 Rumah Hunian Sementara (Huntara) oleh Yayasan Indonesia Relief (IR) Box bagi 54 Kepala Keluarga (KK) korban bencana longsor di Kecamatan Sukajaya, menuai banyak pertanyaan dari berbagai pihak dimana Pemkab Bogor sebagai pihak pemerintah setempat dalam meringkan beban para pengungsi tersebut.

Menurut kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Djuanda Dimansyah menuturkan, perihal bantuan tanggap darurat bagi korban pengungsi di wilayah Kecamatan Sukajaya itu masih dalam tahap proses. Ia tak menampik, sampai sejauh ini pemkab Bogor sendiri belum melakukan relokasi bagi pengungsi korban longsor di wilayah Barat Kabupaten Bogor itu.

“Kami kan pemerintahan beda dengan Yayasan Indonesia Relief Box itu yang bisa membangun Huntara bagi korban bencana tersebut yang dananya bersumber dari relawan. Kalau kami harus menempuh mekanisme dan prosedur terlebih dulu,” kata Djuanda saat dihubungi wartawan, Selasa (28/1/2020).

Penampakan Pembangunan Huntara dari IR Box

Dia melanjutkan, sejauh ini di DPKPP tempat dirinya bertugas baru selesai melakukan mengadakan pendataan bagi seluruh korban bencana ini. Pada intinya, dalam tindak lanjut bagi korban longsor itu untuk dilakukan relokasi ke tempat yang lebih aman.

Baca Juga:  Pedagang Mainan Tak Patah Arang

“Tapi mekanismenya kami harus terlebih dulu berkoodinasi dengan instansi terkait seperti BPBD dan lainnya,” paparnya.

Djuanda juga menerangkan, untuk pasca darurat bencana yang ditetapkan oleh Pemkab Bogor pada 30 Januari 2020 nanti, jajarannya akan langsung membangunan Huntara maupun Hunian Tetap (Huntap).

“Tak dipungkiri huntara atau huntap itu merupakan kebutuhan korban bencana longsor yang tempat tinggalnya hancur dengan kondisi rusak berat maupun ringan,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam menangani korban bencana alam tentu pemkab Bogor dalam hal ini DPKPP sendiri pasti akan semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan dan meringankan beban korban bencana ini.

“Pastinya semaksimal mungkin kami ringankan beban mereka (Korbanbencana,red), dan semua pihak terkait juga akan bantu semaksimal kami termasuk pemkab Bogor maupun pemerintah provinsi serta pusat,” bebernya.

Sejauh ini, lanjutnya, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan sendiri telah melakukan pendataan rumah yang terdampak longsor. Misalnya, rumah yang mengalami rusak ringan, berat kemudian yang terancam longsor dan hanyut.

Baca Juga:  Warga Kota Bogor Luput Dari Bantuan Sosial
Pengerjaan Huntara dari IR Box

“Itu memang kita by data by name, adapun tindak lanjutnya tentu itu ranah instansi terkait. Karena untuk pengadaan Huntara maupun Huntap itu ranah BPN untuk menentukan lokasi tanah negara yang bisa dibangun hunian bagi korban bencana longsor,” pungkasnya.

Sementara itu, Yayasan Indonesia Relief (IR) Box bangunkan rumah hunian sementara atau Huntara bagi korban terdampak bencana Cicangkal yang mengungsi di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya.

Koordinator IR Box, Wanda Melandie, mengatakan, huntara yang dibangun oleh pihaknya sebanyak 27 rumah untuk 54 kepala keluarga.

“Dari awal mereka (pengungsi) meminta kami membangunkan rumah, karena mereka sudah tidak betah di pengungsian,” kata Wanda di temui di posko huntara Pasir Madang, Kabupaten Bogor, belum lama ini.

Wanda mengungkapkan, pembangunan huntara tersebut adalah langkah lanjutan yang dilakukan oleh pihaknya dalam membantu korban bencana.

Wanda juga menyebut, awalnya IR Box hanya membantu mengevakuasi, mendistribusikan bantuan logistik dan membuka jalur-jalur wilayah terisolir akibat bencana longsor yang melanda Sukajaya pada Rabu 1 Januari 2020 lalu.

Baca Juga:  Baja Jembatan Gerendong Tersapu Arus Kali?

“Kami sejak awal disini, namun di pertengahan kami melakukan pendataan bagi korban dan salah satu yang mereka butuhkan cepat ya ini (Huntara),” tuturnya.

Menurutnya, kebutuhan Huntara sendiri diperlukan atau diminta oleh para pengungsi, menurut Wanda sejak H+7 pasca bencana.

Alasannya meski pengungsi sudah tidak lagi memiliki rumah, Wanda menyebut para pengungsi sudah tidak betah tinggal di pengungsian yang beratapkan terpal dan berlantaikan tanah. Sehingga dia dan kawan-kawannya langsung kolektifan dan menggalang dana, untuk segera membangunkan huntara tersebut.

“Selain huniannya, kami juga bangunkan tujuh unit MCK,” ucap Wanda.

Masih ditempat sama, salah seorang pengungsi, Ruswandi (45), menerangkan, dia dan keluarganya bersyukur mendapat bantuan huntara dari IR Box. Ruswandi mengaku jika huntara tersebut dia bersama istri dan lima orang anaknya tinggal dengan nyaman, tidak lagi becek-becekan dan terpenting ia tidak merasa pengap.

Berbeda saat dirinya masih di pengungsian terpal.

“Udah mah sempit terus pengap lagi, jadi huntara ini sangat membantu kami,” tutupnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan