Terduga Pelaku Tindak Pidana Korupsi Bantah Menggelapkan Uang PKH Milik Warga

Bogor Times,Kota Bogor-Terduga pelaku tindak pidana korupsi-pungutan liar (Pungli) Uwaesul Qurni membantah melakukan pemotongan bantuan program keluarga harapan (PKH).

Tak hanya itu,Uwaesul juga membantah melakukan penahanan terhadap buku tabungan dan kartu anjungan tunai mandiri (ATM) milik warga Kecamatan Cigudeg.

Uwaesul diduga tak hanya terlibat dalam praktek tindak pidana korupsi (pungutan liar,red).

Dia juga diduga melakukan tindak pidana penipuan kepada warga Kampung Cisarua Desa Banyuasih Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

Saat ditemui di rumahnya pada Selasa 22 Juni 2021 lalu,Uwaesul mengaku tak tahu menahu soal adanya dugaan pemotongan uang di Desa Banyuasih.

Meski Uwaesul awalnya mengatakan tak mengetahui soal adanya dugaan pemotongan uang tersebut. Namun Uwaesul akhirnya angkat bicara.

Uang itu kata dia bukan dipotong. Melainkan diberikan kepada Ketua PKH Desa Banyuasih Sanah.

Menurut sepengetahuan Uwaesul,uang yang diduga dipotong itu saat ini sudah masuk ke kas PKH.

Dan dugaan pemotongan kata dia juga sudah berdasarkan kesepakatan dan tanpa ada unsur paksaan di antara kedua belah pihak.

“Kalau buku rekening ataupun ATM itu dipegang oleh masing-masing keluarga penerima manfaat. Bukan saya yang memegangnya.Terkait pemotongan atau penyunatan bantuan saya juga tidak pernah menginstruksikan atau meminta yang telah menjadi haknya KPM,”bantah Uwaesul ketika diwawancarai oleh wartawan.

“Saya tidak pernah ya intinya saya tidak pernah meminta apalagi menyunat bantuan,kartu aja dipegang oleh masing-masing keluarga,”bantah Uwaesul lagi.

Ketika dirinya dimintai keterangan oleh wartawan investigasi ini,Uwaesul kekeuh mengatakan,bahwa dia tak pernah menahan buku tabungan maupun ATM milik warga Kampung Cisarua Desa Banyuasih Kecamatan Cigudeg.

Dia justru mengaku tak mengerti,mengapa warga Kampung Cisarua mengira bahwa dia lah yang diduga menahan kartu ATM dan buku tabungan milik mereka.

“Terkait dugaan bahwa saya yang mengambil uang milik para keluarga penerima manfaat dari mesin ATM,saya juga tidak paham apa maksud mereka dan saya juga tidak pernah melakukan itu,”kata Uwaesul mencoba meyakinkan wartawan.

Begitu juga terkait adanya dugaan pemotongan bantuan yang jumlahnya diduga berbeda-beda,mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000 ribu Uwaesul kembali mengaku tidak mengerti dan tak mau tahu.

“Terkait uang yang diminta sudah
berdasarkan kesepakatan dan dimasukkan ke kas mungkin asumsi orang itu adalah potongan namun yang saya tahu itu adalah uang kas yang akan dipergunakan untuk kegiatan kumpul-kumpul, fotocopy, makan-minum dan lain sebagainya,”kata lelaki yang akrab dipanggil Uwes ini.

Besaran uang yang diberikan oleh penerima keluarga manfaat untuk uang kas kata dia, jumlahnya berbeda-beda.Mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000 ribu namun hal itu dikembalikan pada kesukarelaan KPM.

Ketika wartawan media ini menanyakan siapa orang yang pertama kali menginisiasi agar bantuan yang diterima oleh para penerima manfaat masuk ke kas PKH, Uwaesul sepertinya enggan mengungkapkannya.

“Namun permasalahan ini pada bulan April lalu juga sudah pernah diadukan oleh warga kepada polisi. Ketika dipanggil, saya hanya sebatas memberikan klarifikasi.Pada saat saya dipanggil hanya sebatas saksi namun yang terlapornya adalah Ketua PKH,” jelas pendamping PKH ini.

Terkait adanya keluhan warga, lantaran warga itu tidak lagi mendapatkan bantuan beras pada 2020 lalu Uwaesul mengaku hal semacam ini juga banyak dikeluhkan oleh warga lainnya.

“Dan saya juga sudah melaporkan hal itu kepada koordinator PKH Kabupaten Bogor. Namun Berapa jumlah warga by name by address yang sudah saya laporkan karena belum mendapatkan bantuan beras saya juga belum tahu,”aku dia.

Sementara itu terkait jumlah bantuan PKH yang didapatkan oleh pasangan suami istri jika masih memiliki anak Sekolah Dasar (SD) adalah sebesar Rp225.000 ribu.

“Kalau untuk besaran bantuan PKH di tingkat SMP dan SMA Saya tidak tahu,”cetus Uwaesul.

Seperti diberitakan sebelumnya. Warga Kampung Cisarua Desa Banyuasih Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor mengeluhkan maraknya dugaan praktek tindak pidana korupsi (pungutan liar,red) yang terjadi di wilayahnya.

Diduga modus para terduga pelaku ini adalah dengan cara menggelapkan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan buku tabungan milik para penerima bantuan program keluarga harapan (PKH).

Praktek tindak pidana korupsi ini pun diduga sudah terjadi sejak 2018 lalu.Dan diduga ada sebanyak 49 warga yang bantuan program keluarga harapannya (PKH) dipotong.

Editor : Febri Daniel Manalu

Bagikan:

Tinggalkan Balasan