Asap Karhutla Picu Peradangan Saluran Pernapasan, Dokter Ingatkan Risiko ISPA Mengintai Semua Kalangan

JAKARTA, BOGOR TIMES – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan dan perekonomian masyarakat, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan. Paparan asap dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan saluran pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dokter Spesialis Paru di Siloam Hospital Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dr. Faber Kristian Munthe, mengungkapkan bahwa kasus gangguan pernapasan, khususnya ISPA, mengalami peningkatan yang sangat tinggi selama dua bulan terakhir di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan.

Pernyataan tersebut disampaikan Faber dalam Konferensi Pers Kesaksian Korban Asap Karhutla Gambut dari Indonesia dan Malaysia yang digelar secara daring pada Senin (5/10/2026).

“Selama dua bulan belakangan ini memang kasus akibat kebakaran hutan dampaknya juga cukup dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menimbulkan persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Bukan hanya dari segi ekonomi tapi juga dari segi dampak secara kesehatan khususnya. Saya selama dua bulan ini memang menangani kasus peradangan saluran pernapasan, ISPA itu sangat-sangat tinggi,” lanjutnya.

Asap Karhutla Mengandung Partikel Berbahaya

Menurut Faber, asap kebakaran hutan dan lahan mengandung berbagai partikel dan gas yang berpotensi mengganggu kesehatan saluran pernapasan. Risiko tersebut semakin besar ketika seseorang terpapar asap dengan intensitas tinggi dan dalam durasi yang panjang.

Sejumlah zat yang terkandung dalam asap karhutla antara lain sulfur dioksida, karbon monoksida, karbon dioksida, serta partikel debu berukuran berbeda, termasuk PM10, PM5, dan PM2,5.

Partikel-partikel tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Paparan berulang dapat memicu respons peradangan atau inflamasi pada saluran napas.

“Memang banyak sekali partikel-partikel ataupun zat ataupun gas yang dapat berdampak pada saluran napas karena memang bisa menimbulkan efek inflamasi, menimbulkan efek peradangan di salur napas di airway (saluran pernapasan) kita sendiri ketika kita terpapar dalam kondisi ataupun dalam waktu yang lama dan intensitas yang cukup sering,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap karhutla, karena paparan dapat terjadi berulang kali selama kebakaran berlangsung.

Anak-anak, Lansia, dan Penderita Komorbid Lebih Berisiko

Faber menekankan bahwa asap karhutla dapat berdampak pada semua kelompok masyarakat. Namun, risiko gangguan kesehatan perlu menjadi perhatian lebih bagi anak-anak, lanjut usia, serta orang yang telah memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Masyarakat dengan riwayat asma dan penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung, perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk akibat asap.

“Dampak kebakaran hutan karena bukan hanya menyerang individu tertentu tapi menyerang semua masyarakat. Kemudian masyarakat yang mempunyai faktor penyakit komorbid yang sudah ada, seperti penyakit asma, penyakit kardiovaskular (jantung) tentunya,” tuturnya.

Karena itu, perlindungan kesehatan selama karhutla tidak seharusnya hanya berfokus pada kelompok rentan. Seluruh masyarakat perlu mengurangi paparan asap dan memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing.

Dokter Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, Faber mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla agar menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten.

Salah satunya dengan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah, menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan.

“Mencuci tangan, memakai masker, memakan makanan yang sehat dan bergizi, dan kita juga menjaga frekuensi untuk keluar rumah tidak terlalu sering kalau memang tidak dibutuhkan,” pungkasnya.

Selain langkah tersebut, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi dan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika tingkat pencemaran udara memburuk. Penggunaan masker yang sesuai juga perlu diperhatikan untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.

Apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala gangguan pernapasan yang memburuk, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis.

Penanganan Karhutla Perlu Diiringi Perlindungan Kesehatan

Dampak asap karhutla menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga masalah kesehatan masyarakat. Penanganan kebakaran perlu diiringi upaya melindungi warga dari paparan asap, terutama di wilayah yang mengalami pencemaran udara berkepanjangan.

Peningkatan kewaspadaan, akses terhadap informasi kualitas udara, serta penerapan langkah pencegahan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kesehatan selama karhutla.

Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan paparan asap yang berlangsung terus-menerus. Sebab, selain mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari, kualitas udara yang buruk dapat memicu peradangan saluran pernapasan dan memperburuk kondisi orang yang telah memiliki penyakit sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *