Usai Sesumbar Tantangan Tarung Sampai Mati, Herri Pras Ciut Ditantang Petarung Betulan

BOGOR TIMES – Nama konten kreator sekaligus praktisi pencak silat, Herri Pras, kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya melontarkan tantangan bertarung satu lawan satu atau *fight by one* sampai mati melalui media sosial, kini dirinya justru menjadi perbincangan setelah didatangi sejumlah orang yang mempertanyakan keseriusan tantangan tersebut.

Video kedatangan sejumlah pria ke kediaman Herri Pras viral di media sosial pada Senin (2/11/2026). Dalam rekaman yang beredar, terlihat suasana tegang ketika beberapa orang berhadapan langsung dengan Herri.

Kedatangan rombongan tersebut dikaitkan dengan pernyataan Herri sebelumnya yang menantang duel sampai mati. Salah satu pria dalam video mempertanyakan konsistensi ucapan Herri yang dinilai tidak sesuai dengan sikapnya ketika berhadapan langsung.

Situasi semakin memanas ketika seorang pria berkacamata melayangkan tendangan ke arah Herri hingga membuatnya terjatuh. Meski demikian, Herri kembali berdiri dan terlibat adu argumen dengan sejumlah orang yang berada di lokasi.

Dalam konfrontasi tersebut, Herri menyatakan bahwa dirinya bukan takut menghadapi pertarungan. Ia beralasan bahwa duel harus dilakukan setelah persyaratan yang diajukannya dipenuhi terlebih dahulu.

Namun, sikap tersebut justru memunculkan beragam reaksi warganet. Sebagian mempertanyakan mengapa seseorang yang sebelumnya berani mengeluarkan tantangan bertarung sampai mati justru mengajukan sejumlah persyaratan ketika pihak lain datang untuk meminta pertanggungjawaban atas ucapannya.

Berawal dari Polemik dengan UAS dan UAH

Kontroversi Herri Pras tidak muncul begitu saja. Namanya ramai diperbincangkan setelah sejumlah kontennya mengkritik Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH).

Polemik tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan terbuka di media sosial. Herri bahkan mengunggah konten tantangan pertarungan yang menyeret nama sejumlah tokoh agama dan memunculkan istilah duel sampai mati.

Pernyataan tersebut kemudian mengundang reaksi dari kalangan masyarakat dan komunitas bela diri.

Berujung Laporan Polisi

Persoalan semakin panjang setelah kedatangan sejumlah orang ke rumah Herri. Insiden yang diwarnai tindakan fisik tersebut membuat situasi menjadi perhatian publik.

Berdasarkan pemberitaan media, Herri bersama kuasa hukumnya kemudian mendatangi Polres Metro Bogor untuk melaporkan dugaan penganiayaan dan intimidasi yang dialaminya.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat di media sosial harus disertai tanggung jawab. Kritik terhadap siapa pun, termasuk tokoh agama, semestinya disampaikan dengan argumentasi dan adab, bukan dengan provokasi maupun ancaman kekerasan.

Publik kini menunggu bagaimana kelanjutan polemik Herri Pras, termasuk proses hukum atas insiden yang terjadi di kediamannya.****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *